Ini cerita di musim gugur yang amat menyedihkan. Cerita yang telah di tulis oleh tinta berwarna hitam. Sebuah cerita duka yang mendalam, yang hampir saja aku tak mampu menceritakannya pada dunia. Musim ini sungguh aneh, hujan membasahi bumi. Rintikannya meneduhkan jiwa-jiwa yang gersang. Tapi kenapa aku merasakan hal yang berbeda. Aku rasa ini musim gugur karna hati ku berguguran seperti dedaunan kering yang lepas dari rantingnya. Inikah rasanya musim hujan yang aku anggap sebagai musim gugur. Atau ini sebuah kiasan belaka, yang tak mampu aku rasakan dengan berbagai indera perasa di tubuhku.
Ini rasanya seperti balon yang berwarna-warni yang terbang bebas ke langit biru. Tapi balon tersebut pecah sebelum mencapai langit. Jatuh ke bumi menjadi serpihan-serpihan yang tak berdaya. Apa bedanya dengan musim gugur yang aku rasakan sebelumnya. Hal ini lebih menyakitkan, aku merasakan sudah mampu berada di langit tapi kenyataannya aku jatuh menghempas bumi yang berdebu. Aku jatuh dan tak bisa bangkit kembali. Balon itu tak mampu berwarna menghiasi langit, dia hanya menjadi sampah yang tak berdaya.
Ini sekotak rin(d)u yang aku rasakan sendiri. Aku tak bisa membaginya dengan orang lain. Yah, kotak itu kosong, rin(d)u yang tak berarti apa-apa. Aku berbicara tentang musim gugur, balon yang tak mampu menyentuh langit dan sekotak rin(d)u. Semua ini tentang kamu. Kamu yang sulit aku definisikan dengan kalimat. Aku dan kamu. Aku musim gugur yang jatuh bersama daun kering. Kamu musim hujan yang menghadirkan alunan merdu rintik hujan. Aku balon udara yang hancur sebelum menyentuh langit. Kamu adalah langit yang ingin aku sentuh. Dan aku sekotak rin(d)u yang kosong. Dan kamu.... aku tak mampu membaca isi hatimu. Dapatkah kau tuliskan di sini.... :)



0 komentar:
Posting Komentar